Sukses Menurut Al-Qur’an dan Forbes: Siapa yang Harus Kita Ikuti ?
Dalam kehidupan modern, kata sukses sering dijadikan tujuan utama. Namun, definisi sukses ternyata berbeda antara Islam dan peradaban Barat. Perbedaan ini bukan sekadar soal cara hidup, tetapi mencerminkan nilai, tujuan akhir, dan arah perjalanan manusia. Artikel ini akan membahas standar sukses dalam Islam, standar sukses orang Barat, benang merah perbedaan, hingga indikator dan referensi ilmiah yang mendukungnya.
Standar Sukses dalam Islam
Dalam Islam, sukses dikenal dengan istilah al-falāh — yaitu keberuntungan dan kemenangan di dunia sekaligus akhirat. Penilaian sukses tidak hanya diukur dari pencapaian materi, tetapi dari kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah, sesama manusia, dan diri sendiri.
A. Prinsip Sukses dalam Islam
-
Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
Islam menempatkan ketaatan sebagai fondasi utama kesuksesan. Orang yang mendapatkan petunjuk Allah disebut sebagai orang yang beruntung.
Referensi: QS. Al-Baqarah: 5. -
Ketenangan jiwa (sakīnah)
Kebahagiaan dalam Islam berasal dari hati yang tenang, bukan dari pencapaian luar.
Referensi: QS. Ar-Ra’d: 28. -
Keberkahan rezeki
Banyak atau sedikitnya rezeki tidak menjadi indikator utama. Yang penting adalah halal, baik, dan membawa manfaat.
Referensi: HR. Tirmidzi. -
Keselamatan akhirat
Surah Al-Mu’minūn ayat 1–11 menjelaskan ciri “orang-orang yang beruntung”, seperti khusyuk dalam shalat, menjaga amanah, dan menunaikan zakat. -
Memberi manfaat bagi orang lain
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Referensi: HR. Thabrani.
B. Dimensi Ilmiah Sukses dalam Islam
Beberapa ilmuwan Muslim mendefinisikan sukses sebagai:
-
Syed Naquib al-Attas: sukses adalah tercapainya adab — menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mengenal batas moral.
-
Fazlur Rahman: sukses adalah memaksimalkan potensi manusia secara moral dan spiritual.
Standar Sukses Orang Barat
Konsep sukses dalam peradaban Barat banyak dipengaruhi oleh humanisme, kapitalisme, psikologi modern, dan filosofi kebebasan individu.
A. Prinsip Sukses Barat Menurut Ilmu Modern
-
Kekayaan material & ekonomi
Sukses sering diukur dari pendapatan, aset, dan kekayaan.
Referensi: Max Weber – The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905). -
Aktualisasi diri
Maslow menempatkan “self-actualization” sebagai puncak piramida kebutuhan manusia.
Referensi: Maslow, Motivation and Personality (1954). -
Prestasi karier dan pendidikan
Gelar yang tinggi, jabatan profesional, dan pengakuan menjadi ukuran sukses. -
Kebahagiaan hedonis dan kesejahteraan subjektif
Konsep ini diukur dari kepuasan hidup dan emosi positif.
Referensi: Ed Diener – Subjective Well-Being (1984). -
Individual autonomy (kebebasan individu)
Kebebasan menentukan jalan hidup dianggap sebagai capaian besar dalam dunia modern.
Referensi: Amartya Sen – Development as Freedom (1999). -
Popularitas atau pengaruh publik
Di era digital, jumlah followers dan popularitas menjadi indikator kesuksesan baru.
| Aspek | Islam | Barat |
|---|---|---|
| Tujuan Akhir | Ridha Allah & keselamatan akhirat | Kebahagiaan & pencapaian pribadi |
| Orientasi | Kolektif (manfaat sosial) | Individualistik |
| Arah Kesuksesan | Dunia–akhirat | Duniawi |
| Ukuran Sukses | Kualitas iman, akhlak, keberkahan | Kuantitatif: gaji, jabatan, aset |
| Sifat | Spiritual & moral | Material & psikologis |
| Durasi | Abadi (akhirat) | Sementara (hidup dunia) |
Indikator Sukses: Dua Kutub yang Berbeda
Indikator Sukses dalam Islam
-
Kualitas ibadah
-
Kejujuran & amanah
-
Ketentraman jiwa
-
Rezeki halal & berkah
-
Bermanfaat bagi sesama
-
Akhlak mulia
-
Keselamatan akhirat
Indikator Sukses Barat
-
Tingkat pendapatan
-
Naik jabatan atau karier
-
Pendidikan tinggi
-
Popularitas
-
Pengakuan masyarakat
-
Self-esteem dan self-expression
-
Kepemilikan aset & gaya hidup
Benang Merah Perbedaannya
Perbedaan paling fundamental adalah sumber nilai:
-
Islam: sukses berdasarkan wahyu, moralitas, dan keberlanjutan akhirat.
-
Barat: sukses berdasarkan otonomi individu, pencapaian materi, dan kebebasan personal.
Namun, keduanya sama-sama mengakui nilai:
-
kerja keras,
-
disiplin,
-
dedikasi,
-
pengembangan diri.
Bedanya: Islam memasukkan dimensi spiritual dan tanggung jawab sosial, sedangkan Barat mengutamakan prinsip individualisme dan pencapaian duniawi.
Memahami perbedaan standar sukses Islam dan Barat membuat kita mampu memilih nilai yang tepat dalam menjalani hidup. Islam menawarkan kesuksesan yang holistik: dunia–akhirat, materi–spiritual, diri–masyarakat. Sementara standar Barat fokus pada pencapaian dunia dan kebebasan individu.
Keduanya dapat diintegrasikan dengan bijak — selama orientasi akhir tetap berada dalam koridor nilai dan moral yang benar.
Referensi IlmiahA. Literatur Islam
-
Al-Qur’an: QS. Al-Baqarah: 5; Al-Mu’minūn: 1–11; Ar-Ra’d: 28.
-
Hadis riwayat Tirmidzi & Thabrani.
-
Syed Naquib al-Attas – Islam and Secularism (1978).
-
Fazlur Rahman – Major Themes of the Qur’an (1980).
-
Imam Al-Ghazali – Ihya Ulumuddin.
-
MUI – Fatwa-fatwa terkait etika hidup dan keberkahan.
B. Literatur Barat
-
Max Weber – The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905).
-
Abraham Maslow – Motivation and Personality (1954).
-
Martin Seligman – Positive Psychology (2004).
-
Ed Diener – Subjective Well-Being (1984).
-
Amartya Sen – Development as Freedom (1999).
-
Adam Smith – The Wealth of Nations (1776).
Komentar
Posting Komentar